Google Website Translator Gadget

Rabu, 11 Desember 2013

POLISI BANDUNG : NILANG TO THE POINT



POLISI BANDUNG : NILANG TO THE POINT

Cerita ini berawal ketika saya dan teman-teman Goes to Jakarta pada sekitar awal tahun 2012, ada beberapa hal yang perlu disampaikan kepada salah seorang owner dari perusahaan rekaman yang menaungi temen saya (Artis lah temenku hahaha..), kala itu kami menggunakan mobil rental berlima kami berangkat pukul 03.00 Pagi. Yang menarik sebenarnya bukan ketika kami ke Jakarta terus kemudian ke Tanggerang, karena saya piker nggak ada yang berbobot yang perlu diceritakan, ingat, bukan karena saya menolak masuk diskotik, dan menolak pesan minuman beralkohol ya hehe.. J ya tapi memang justru kisah serunya waktu sepulang dari sana kita malah mampir ke Bandung untuk menengok temen yang sakit. Nggak begitu paham daerah mana yang jelas saat itu pagi sekitar pukul enam, temen saya Bolivia yang udah nyetir dan nggak tidur beberapa hari tiba tiba disuruh berhenti oleh seorang oknum Polisi. Kami berdua turun, kami ditanyain SIM dan STNK yang tentu kami membawanya, kami ternyata masuk jalur yang pada jam itu tidak boleh ada kendaraan pribadi lewat sana (Ah macam mana pula..bukannya bumi ini milik Gusti Allah dan sayapun sudah bayar pajak dengan shalat 5 waktu hahah…kidding)

Temen saya disuruh turun dan diajak untuk ke POS polisi yang tentu tempatnya sedikit terhalang dari keramaian, disana ada dua orang pemilik kendaraan dengan kasus sama salah satunya sedang tawar menawar,

“ Jadi berapa pa?” Tanya yang kena tilang

“Sudah 150 rb saja” kata pak polisi yang terlihat bersemangat seperti sedang jualan kue. Sumpah men.. itu Polisi nggak ada canggung-canggungnya atau wibawanya biasa aja gaya bicaranya kaya petugas kelurahan yang sedang ngelayanin bikin KTP. Didalam hati saya hanya nyengir, tapi disatu sisi dari pada jadi polisi yang pura-pura berwibawa mending dia gayanya rock n roll, nilang dan minta duit ya santai aja kaya jualan kacang haha…apa adanya gitu..

Tibalah giliran kami,

“Mahasiswa ya?.. dari mana?” Tanya polisi itu

“Cirebon pak” kata temenku, ( musisi koq dibilang mahasiwa)

Tiba-tiba Pak Polisinya langsung to the point:

“Sudah, samain aja kaya bapak tadi” (maksudnya bayar 150 ribu dan bebas-pen) masih dengan gaya slengeannya.

Temenku membela diri,
“Wah jangan segitu pak, kita nggak ada duit segitu, mahasiswa pak kata temenku ngarang cerita.

“Adanya berapa?..” Tanya Polisi lagi,

“Paling 50 ribu pak” Jawab temenku

“Ya udah tambahin 75 ribu” dengan entengnya kami bernegosiasi

Temenkupun memberikan uang 75 ribu dan kemudian bebas kembali, melanjutkan perjalanan.

Saat itu memang saya tidak ikut bernegosiasi, tapi dari ke 5 temen yang turun cuma kami berdua, yang ke 3 saat diberhentiin polisi malah pada linglung karena kebangun dari tidur. Saat turun saya sich Cuma kepikiran minta slip biru kemudian bayar ke Bank, Cuma karena polisinya terlihat rock n roll saya pun urung dari niat tersebut, lagian mana ada bank buka jam 06.00 pagi, kalo via atm mana kami tahu no rekening tilang polisi itu ke no rekening mana. Dan ATM kupun saat itu nyaris tak bersisa haha…. Orang nggak pernah ada sosialisai kalopun ada ya ditutupi, ya.. seperti yang Pak Karno Presiden RI pertama pernah bilang

“Kita ini tidak bodoh tapi dibodohkan, kita ini tidak miskin, tapi dimiskinkan, oleh sisitem..”

Lain lagi, kisah di sekitar pertengahan 2013, saat saya dan temen membawa rombongan DINSOS Jakarta diberhentikan razia polisi di daerah sekitar gudang BAT Cirebon, temen saya kemudian turun, merasa tidak ada masalah saya santai aja karena temenku bukan sopir kawakan, tapi temenku kelihatan panik, ternyata usut punya usut warna mobil dan STNK tidak sama (lha koq bisa gitu?..) mana kami tahu, mobil itu pinjam dari wak’ Haji dan STNK tak sempat kami cek. Konon kata pak polisi ini bisa dianggap mobil curian. Entah apa yang dikatakan temen saya yang sudah diseberang jalan bersama pak polisi yang ngomongnya sedikit nyolot dan keliahatan tegas (tapi bukan tegas untuk kebenaran sepertinya, biar panic mungkin hihi.. J). Melihat kondisi tersebut sayapun turun dan menhampiri ditengah negosiasi yang terjadi, entah kenapa karena repleks ngeluari HP di kantong saya, sayapun hanya melihat Hp saya tanpa ada yang saya lakukan tapi pak polisinya malah nyebrang jalan ngejauhin saya sambil bilang mobil harus ditahan. Temen saya ngikutin polisi nyebrang jalan dan malah tambah jauh dari posko razia, rupanya temen saya sudah nyiapin uang sogokan (haha..ngggak boleh diitiru). Saya juga ikut ngintil nyebrang dari belakang sambil masih dengan HP ditangan, lagi-lagi setelah  saya mendekat Pak Polisinya malah tambah jauh lagi, saya nggak mikir apa-apa saat itu. Sampai temen saya kemudian bilang,

“Nai.. lu di mobil aja”

“Bisa nggak ngatasinnya?” tanyaku..

“Bisa” Jawabnya

Sayapun balik mobil, tapi Ibu-ibu dari DINSOS rombongan dari Jakarta  tersebut rupanya kesal, salah seorang turun meskipun yang lain coba nahan,

“Udah bu nggak usah turun, itu tanggung jawab yang bawa mobil” kata salah seorang lagi

Tapi sang ibu-ibu tersebut turun, dan kelihatan ngomel-ngomel atau mungkin lebih tepatnya  minta kebijaksanaan, pasalnya saat itu Dinsos Jakarta sedang urusan penting di Cirebon untuk ketemu dengan WABUP (Wakil Bupati) untuk tanda tangan berkas, yang saya juga kurang faham berkas apa yang dibawanya. Pak polisinya rupanya tidak bisa berbuat banyak, dengan berdalih hanya menjalankan tugas dari komandannya. Ibu DINSOS pun kini meminta kebijaksanaan sang komandan yang kala itu sedang duduk di dalam mobilnya, sambil berucap dengan penuh wibawa ke bawahannya tersebut dan tanpa banyak aksi dengan coolnya

“Tolong ibu ini jangan dipersulit” perintahnya.

“Siap dan!” jawabnya.

Semudah itu, akhirnya kamipun melanjutkan perjalanan, dengan bebas dan angin segar, namun setelah berlalu tidak begitu jauh temen saya nyerita katanya sempet ngasih duit 70 ribu sebelum Ibu DINSOS marah-marah. Apeee deyy… haha..

Tapi, bagian serunya saya pikir bukan karena kami terbebas dari tilang, kenapa pak Polisi tiap saya dekati langsung berlalu?...(padahal saya juga nggak punya ilmu kanuragan yang bikin orang jadi takut haha..) dan saya baru sadar setelah beberpa waktu berlalu, bahwa Polisi tersebut mungkin takut saya menyalakan recorder( rekaman) di HP saya  hahaha…payah!!
Di Cirebon pernah ada oknum Polisi yang ketahun nilang anak sekolah dan terekam kamera ketahuan oleh PROVOST video rekamnnya dan diusut. Hero. Ada lagi pengalaman temen saya yang sempat dituduh menjelekan oknum polisi via media lewat SMS, yang sebenernya temen saya tidak pernah SMS ke media, hanya saja HP nya pernah digunakan oleh seseorang untuk broadcast ke salah satu media. Rumah temen saya konon sampai di awasi oleh oknum-oknum tertentu. Waaah seru sayangnya nggak inget dah lama ceritanya saya denger..pokonya endingnya oknum polisi tersebut meski pangkatnya lebih tinggi tetep tidak berkutik meskipun hanya oleh provost  yang pangkatnya lebih rendah, sayangnya detilnya saya lupa ceritanya

Kalo dipikir-pikir banyak cerita juga ya dengan Pak Polisi, mulai dari saya dan keponkan saya malah sengaja pelan-pelan saat ada razia, biar di berhentiin karena kami sadar kami lengkap, dan nyata diberhentiin, serunya yang dilihat pertama adalah sepatu kami berdua, saya pake sepatau pemberian temen saya yang milik TNI AD (Angkatan Darat), keponakan saya menggunakan sepatu security yang kata temenku sich itu sepatu katanya dari kakanya yang PASPAMPRES (Pasukan Pengaman Presiden), meskipun saya agak kurang yakin sich, bener nggak nya sepatu itu haha... Yang jelas kami cengengesan setelah berlalu dari razia tersebut.

Terus cerita terbaru, di bulan Oktober 2013 kemarin, saat saya mengurus perijinan Acara Amal untuk di Water Park , yang terpaksa dipindah acaranya karena ketidakjelasan pengurusannya, sudah terkatung beberapa hari, akhirnya saya ngadu pihak manager Waterpark yang kebetulan kenal BABINSA-nya, saya pun suruh datang pada hari yang sudah ditentukan, saya pun datang dan menghubungi BABINSA-nya yang saya pikir sangat welcome, saya hanya disuruh masuk dan dititipkan ke petugas terkait untuk dibantu. Setelah BABINSA pergi karena saat itu tidak sedang bertugas, obrolan petugasnya malah njelimet, harus lapor POLRES katanya karena sudah ada tembusan kesana.
Mana ada acara kampung yang modal aja dari patungan relawan, non sponsor, non guest star nasional, charity pula, harus lapor POLRES yang seenggaknya 1-2 juta harus keluar. Penjualan tiketnya akan kami sumbangkan pula, peralatan musik hasil sumbangan dari kawan-kawan musisi lokal, kalo kami punya uang sebanyak itu, kami sumbangin aja tuh dana yang memang rencaanya akan disumbangkan untuk RUTILAHU (Rumah Tidak Layak Huni).  Yang bikin heran saat ngobrol soal perijinan tersebut pintu tempat pengurusan bagian  perihal tersebut yang sejak awalnya dibuka, tiba-tiba ditutup. (Maksudnya?.....)  Anda interpretasikan sendiri  saya juga kurang paham tuh, (tapi kata P ustad nggak boleh suudzon haha..)  herannya saat ada yang mau bikin SKCK dibuka lagi. Aneh ya tindak tanduknya..  J ting…

Yang jelas tulisan ini bukan sebagai bentuk mendiskreditkan kepolisian, karena saya sadar ROCKER JUGA MANUSIA, POLISI JUGA MANUSIA, yaa artinya tidak lepas dari salah dan khilap. Dan seperti kata Buya Syakur,  tidak mungkin di dunia ini orangnya baiiiiiikkkk semua… Jahaaaaaat semuaa.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar