Musim PILKADA 2013 ini saya belum
untung besar (saya bisniskan mereka,
karena merekapun kadang membisniskan rakyat hahaha..), meskipun sudah ada
beberapa yang dengan strategi PDKT-nya ngundang nonton bareng di 21 misalnya (tapi jazakallah filmnya bagus koq wkwkwk),
yang siap ngebantu acara musik, yang nawarin dana buat bikin anu, sejauh ini
baru tiga sich, dari parpol berbeda. Terlepas dari niatan mereka yang “wallahu a’lamu” - hanya sang pemilik bintang
Syi’ra yang tahu,, saya sich hanya sebatas memberikan dukungan yang ala
kadarnya, toh dari pemilihan kuwu
sampe mungkin nanti PILPRES belum kepikiran tuh untuk nyoblos. Terkecuali
memang saya menemukan sosok yang memang benar-benar seperti “ksatria ireng” (ksatria baja hitam) hihi.. yang
mirip-mirip gaya
kepemimpinan yang sudah saya buat parodinya di youtube-lah.. ciyeeee..suit suit…
Karena, menurut saya nggak ada
yang benar-benar seperti ksatria sesungguhnya, koq bisa gitu?.. saya menggunakan metode Qur’ani dalam menentukan
seorang pemimpin lho… (hebat khan saya…),
qoidohnya sederhana sesuai dengan ayat:
Walaa tamnun tastaktsiru (QS Al Muddatsir 74:6)
( Dan janganlah kamu memberi dengan harapan mendapat imbalan yang lebih
besar)
Diluar ayat ini, seorang pemimpin
sepertinya nggak lebih dari seorang yang cuma mau duduk di kursi jabatan, muasin
keinginan dunianya, nyari proyek gede yang nantinya bisa didapetin kalo duduk
di posisi itu, ngelindungi aset perusahaannya yang menggurita atau sekadar
numpang keren-kerenan (wakil/pemimpin
rakyat gitu loh..). Kenapa ayat itu bisa menjadi qoidoh?.. karena logikanya, pastilah seorang calon pemimpin itu
kampanye dulu sebelum hari “h” pemilihan tho?..
pake apa ?.. uang. Nah uangnya ini gede, kenapa mesti repot-repot ngabisin
dana kampanye yang milyaran atau triliyunan itu untuk kampanyenya, sedangkan
katanya tujuannya mau mensejahterakan rakyat. Yang menarik, the point is:
- Kalomemang mau mensejahterakan rakyat, pake aja tuh dana kampanye untuk mensejaherataakn rakyat ,melalui program efektif, tepat sasaran, tepat guna dan tidak di corrupt, kalo nggak gitu berarti mereka memang berharap ada take and give. Sedangkan…(nyambung point berikutnya)
- Pemimpin sejati nggak akan mikirin take and give bro, rakyat sejahtera misi selesai. Nah kenyataannya?..mereka ingin menang dan duduk dikursi jabatan tho?..
- Kenapa janji-janji programnya cuma jelang hari pencoblosan saja, diluar itu nggak (janggal khan’ untuk ukuran orang/parpol yang punya misi mensejahterakan rakyat?..)
- Kenapa dana yang jumlahnya sebrek itu tidak dibuatkan saja program yang pro-rakyat, tanpa umbul2 tanpa baligho, tanpa harus peduli menjadi atau tidak menjadi wakil rakyat dulu (lho katanya mau mensejahterakan rakyat?..piye tho..-balasan pemimpin bukannya ada di akhirat?)
Kesimpulannya, hampir semua
pemimpin ingin balasan yang lebih besar untuk dirinya maupun parpolnya = tidak
sesuai dalil/qoidoh/ayat penakar calon
pemimpin = ngak ada Ksatria Baja Hitam, nggak ada Power Ranger, nggak ada
Superman, nggak ada Robin Hood maupun Batman.. ( mereka suka niru gaya
super hero di TV soalnya )..
Dalih-dalih Fake Super Hero
“Khan buat bisa dapetin APBD atau APBN yang jumlahnya lebih gede untuk
kesejahteraan yang lebih merata…jadi so what gitu loh..”
Mengejar APBN atau APBD itu juga
ada bentuk minta balasan yang lebih gede dong...
AlQuran itu kalammnya Illahi,
nggak mungkin keliru, nggak mungkin salah. Kalo memang di firmankan demikian
berarti memang ada kebenaran mutlaq yang terkandung didalamnya. Dan terbukti
khan.. orang yang minta balasan lebih besar itu
bobrok mental spiritualnya, sudah bisa dipastikan dia tidak akan
berfikir untuk lilmaslahatilummat atau lilmaslahatil-rakyat
(untuk kebaikan rakyat) lebih tepatnya.
“Khan itu qoidoh secara islam, sedangkan tidak semua partai atau calon
pemimpin itu beragama islam..”
Yaa bukan urusan mas bro… mau
pake qoidoh Qurani, mau pake qoidoh syaithoni, atau qoidoh dari luar angkasa sekalipun, ini
hak pemilih sebagi individu beragama. Lagi pula Indonesia negara islam terbesar di
dunia. Kalo masyarakatnya mau pake qoidoh
atau ayat AlQuran atau apapun
bebas tho?…
So…sebelum memilih dan mencoblos
berfikir jernih dulu, toh dari tahun ke tahun, yang tidur dijalan masih saja
ada, yang ngemis di lampu merah juga banyak, angka kejahatan tinggi, dan masih
sebarek fenomena lainnya yang tidak berkurang (karena kalo berakhir kayanya nggak mungkin, minimal berkuranglah). Di
Musim Kawin Percaturan Politik dan Fake Pahlawan (yang ngaku-ngaku pejuang
rakyat, tapi bukan) ini, mari berikir lebih jernih..
And then…
Mohon maaf apabila lidah saya
bermasalah, tidak ada maksud menyudutkan pihak manapun. Dan mohon ayatnya di
ricek ke mufasir (karena saya bukan mufasir ) hihi..