POLISI BANDUNG
: NILANG TO THE POINT
Cerita ini berawal ketika saya
dan teman-teman Goes to Jakarta pada sekitar awal tahun 2012, ada beberapa hal
yang perlu disampaikan kepada salah seorang owner dari perusahaan rekaman yang
menaungi temen saya (Artis lah temenku hahaha..), kala itu kami menggunakan
mobil rental berlima kami berangkat pukul 03.00 Pagi. Yang menarik sebenarnya
bukan ketika kami ke Jakarta
terus kemudian ke Tanggerang, karena saya piker nggak ada yang berbobot yang
perlu diceritakan, ingat, bukan karena saya menolak masuk diskotik, dan menolak
pesan minuman beralkohol ya hehe.. J ya tapi memang justru
kisah serunya waktu sepulang dari sana kita
malah mampir ke Bandung
untuk menengok temen yang sakit. Nggak begitu paham daerah mana yang jelas saat
itu pagi sekitar pukul enam, temen saya Bolivia yang udah nyetir dan nggak
tidur beberapa hari tiba tiba disuruh berhenti oleh seorang oknum Polisi. Kami
berdua turun, kami ditanyain SIM dan STNK yang tentu kami membawanya, kami
ternyata masuk jalur yang pada jam itu tidak boleh ada kendaraan pribadi lewat sana (Ah macam mana pula..bukannya bumi ini milik Gusti Allah dan sayapun
sudah bayar pajak dengan shalat 5 waktu hahah…kidding)
Temen saya disuruh turun dan
diajak untuk ke POS polisi yang tentu tempatnya sedikit terhalang dari
keramaian, disana ada dua orang pemilik kendaraan dengan kasus sama salah
satunya sedang tawar menawar,
“ Jadi berapa pa?” Tanya yang kena tilang
“Sudah 150 rb saja” kata pak polisi yang terlihat bersemangat
seperti sedang jualan kue. Sumpah men.. itu Polisi nggak ada
canggung-canggungnya atau wibawanya biasa aja gaya bicaranya kaya petugas kelurahan yang
sedang ngelayanin bikin KTP. Didalam hati saya hanya nyengir, tapi disatu sisi
dari pada jadi polisi yang pura-pura berwibawa mending dia gayanya rock n roll,
nilang dan minta duit ya santai aja kaya jualan kacang haha…apa adanya gitu..
Tibalah giliran kami,
“Mahasiswa ya?.. dari mana?” Tanya polisi itu
“Cirebon
pak” kata temenku, ( musisi koq dibilang mahasiwa)
Tiba-tiba Pak Polisinya langsung
to the point:
“Sudah, samain aja kaya bapak tadi” (maksudnya bayar 150 ribu dan
bebas-pen) masih dengan gaya
slengeannya.
Temenku membela diri,
“Wah jangan segitu pak, kita nggak ada duit segitu, mahasiswa pak” kata temenku ngarang cerita.
“Adanya berapa?..” Tanya Polisi lagi,
“Paling 50 ribu pak” Jawab temenku
“Ya udah tambahin 75 ribu” dengan
entengnya kami bernegosiasi
Temenkupun memberikan uang 75
ribu dan kemudian bebas kembali, melanjutkan perjalanan.
Saat itu memang saya tidak ikut
bernegosiasi, tapi dari ke 5 temen yang turun cuma kami berdua, yang ke 3 saat
diberhentiin polisi malah pada linglung karena kebangun dari tidur. Saat turun
saya sich Cuma kepikiran minta slip biru kemudian bayar ke Bank, Cuma karena
polisinya terlihat rock n roll saya pun urung dari niat tersebut, lagian mana
ada bank buka jam 06.00 pagi, kalo via atm mana kami tahu no rekening tilang
polisi itu ke no rekening mana. Dan ATM kupun saat itu nyaris tak bersisa haha….
Orang nggak pernah ada sosialisai kalopun ada ya ditutupi, ya.. seperti yang
Pak Karno Presiden RI pertama pernah bilang
“Kita ini tidak bodoh tapi dibodohkan, kita ini tidak miskin, tapi
dimiskinkan, oleh sisitem..”
Lain lagi, kisah di sekitar
pertengahan 2013, saat saya dan temen membawa rombongan DINSOS Jakarta diberhentikan
razia polisi di daerah sekitar gudang BAT Cirebon, temen saya kemudian turun,
merasa tidak ada masalah saya santai aja karena temenku bukan sopir kawakan,
tapi temenku kelihatan panik, ternyata usut punya usut warna mobil dan STNK
tidak sama (lha koq bisa gitu?..) mana kami tahu, mobil itu pinjam dari wak’
Haji dan STNK tak sempat kami cek. Konon kata pak polisi ini bisa dianggap
mobil curian. Entah apa yang dikatakan temen saya yang sudah diseberang jalan
bersama pak polisi yang ngomongnya sedikit nyolot dan keliahatan tegas (tapi
bukan tegas untuk kebenaran sepertinya, biar panic mungkin hihi.. J).
Melihat kondisi tersebut sayapun turun dan menhampiri ditengah negosiasi yang
terjadi, entah kenapa karena repleks ngeluari HP di kantong saya, sayapun hanya
melihat Hp saya tanpa ada yang saya lakukan tapi pak polisinya malah nyebrang
jalan ngejauhin saya sambil bilang mobil harus ditahan. Temen saya ngikutin polisi
nyebrang jalan dan malah tambah jauh dari posko razia, rupanya temen saya sudah
nyiapin uang sogokan (haha..ngggak boleh diitiru). Saya juga ikut ngintil
nyebrang dari belakang sambil masih dengan HP ditangan, lagi-lagi setelah saya mendekat Pak Polisinya malah tambah jauh
lagi, saya nggak mikir apa-apa saat itu. Sampai temen saya kemudian bilang,
“Nai.. lu di mobil aja”
“Bisa nggak ngatasinnya?” tanyaku..
“Bisa” Jawabnya
Sayapun balik mobil, tapi Ibu-ibu
dari DINSOS rombongan dari Jakarta
tersebut rupanya kesal, salah seorang
turun meskipun yang lain coba nahan,
“Udah bu nggak usah turun, itu tanggung jawab yang bawa mobil” kata
salah seorang lagi
Tapi sang ibu-ibu tersebut turun,
dan kelihatan ngomel-ngomel atau mungkin lebih tepatnya minta kebijaksanaan, pasalnya saat itu Dinsos Jakarta
sedang urusan penting di Cirebon untuk ketemu dengan WABUP (Wakil Bupati) untuk
tanda tangan berkas, yang saya juga kurang faham berkas apa yang dibawanya. Pak
polisinya rupanya tidak bisa berbuat banyak, dengan berdalih hanya menjalankan
tugas dari komandannya. Ibu DINSOS pun kini meminta kebijaksanaan sang komandan
yang kala itu sedang duduk di dalam mobilnya, sambil berucap dengan penuh
wibawa ke bawahannya tersebut dan tanpa banyak aksi dengan coolnya
“Tolong ibu ini jangan dipersulit” perintahnya.
“Siap dan!” jawabnya.
Semudah itu, akhirnya kamipun
melanjutkan perjalanan, dengan bebas dan angin segar, namun setelah berlalu
tidak begitu jauh temen saya nyerita katanya sempet ngasih duit 70 ribu sebelum
Ibu DINSOS marah-marah. Apeee deyy… haha..
Tapi, bagian serunya saya pikir bukan
karena kami terbebas dari tilang, kenapa pak Polisi tiap saya dekati langsung
berlalu?...(padahal saya juga nggak punya ilmu kanuragan yang bikin orang jadi
takut haha..) dan saya baru sadar setelah beberpa waktu berlalu, bahwa Polisi
tersebut mungkin takut saya menyalakan recorder( rekaman) di HP saya hahaha…payah!!
Di Cirebon pernah ada oknum
Polisi yang ketahun nilang anak sekolah dan terekam kamera ketahuan oleh
PROVOST video rekamnnya dan diusut. Hero. Ada
lagi pengalaman temen saya yang sempat dituduh menjelekan oknum polisi via
media lewat SMS, yang sebenernya temen saya tidak pernah SMS ke media, hanya
saja HP nya pernah digunakan oleh seseorang untuk broadcast ke salah satu
media. Rumah temen saya konon sampai di awasi oleh oknum-oknum tertentu. Waaah
seru sayangnya nggak inget dah lama ceritanya saya denger..pokonya endingnya oknum
polisi tersebut meski pangkatnya lebih tinggi tetep tidak berkutik meskipun
hanya oleh provost yang pangkatnya lebih
rendah, sayangnya detilnya saya lupa ceritanya
Kalo dipikir-pikir banyak cerita
juga ya dengan Pak Polisi, mulai dari saya dan keponkan saya malah sengaja pelan-pelan
saat ada razia, biar di berhentiin karena kami sadar kami lengkap, dan nyata
diberhentiin, serunya yang dilihat pertama adalah sepatu kami berdua, saya pake
sepatau pemberian temen saya yang milik TNI AD (Angkatan Darat), keponakan saya
menggunakan sepatu security yang kata temenku sich itu sepatu katanya dari
kakanya yang PASPAMPRES (Pasukan Pengaman Presiden), meskipun saya agak kurang
yakin sich, bener nggak nya sepatu itu haha... Yang jelas kami cengengesan
setelah berlalu dari razia tersebut.
Terus cerita terbaru, di bulan
Oktober 2013 kemarin, saat saya mengurus perijinan Acara Amal untuk di Water
Park , yang terpaksa dipindah acaranya karena ketidakjelasan pengurusannya, sudah
terkatung beberapa hari, akhirnya saya ngadu pihak manager Waterpark yang
kebetulan kenal BABINSA-nya, saya pun suruh datang pada hari yang sudah
ditentukan, saya pun datang dan menghubungi BABINSA-nya yang saya pikir sangat
welcome, saya hanya disuruh masuk dan dititipkan ke petugas terkait untuk
dibantu. Setelah BABINSA pergi karena saat itu tidak sedang bertugas, obrolan
petugasnya malah njelimet, harus lapor POLRES katanya karena sudah ada tembusan
kesana.
Mana ada acara kampung yang modal
aja dari patungan relawan, non sponsor, non guest star nasional, charity pula,
harus lapor POLRES yang seenggaknya 1-2 juta harus keluar. Penjualan tiketnya
akan kami sumbangkan pula, peralatan musik hasil sumbangan dari kawan-kawan
musisi lokal, kalo kami punya uang sebanyak itu, kami sumbangin aja tuh dana
yang memang rencaanya akan disumbangkan untuk RUTILAHU (Rumah Tidak Layak Huni). Yang bikin heran saat ngobrol soal perijinan
tersebut pintu tempat pengurusan bagian
perihal tersebut yang sejak awalnya dibuka, tiba-tiba ditutup. (Maksudnya?.....) Anda interpretasikan sendiri saya juga kurang paham tuh, (tapi kata P ustad
nggak boleh suudzon haha..) herannya
saat ada yang mau bikin SKCK dibuka lagi. Aneh ya tindak tanduknya.. J ting…
Yang jelas tulisan ini bukan
sebagai bentuk mendiskreditkan kepolisian, karena saya sadar ROCKER JUGA
MANUSIA, POLISI JUGA MANUSIA, yaa artinya tidak lepas dari salah dan khilap.
Dan seperti kata Buya Syakur, tidak mungkin
di dunia ini orangnya baiiiiiikkkk semua… Jahaaaaaat semuaa.



























