Terlepas dari (kalo tidak salah)
menurut jumhur, bahwa musik-musik haram, ada sesuatu yang mungkin penting untuk
disampaikan, khususnya tentang musik religi yang sepertinya membawa pengaruh
positif dalam hangar bingar industri musik tanah air yang umumnya kering dengan
nilai-nilai agama, bahwa di satu sisi musik religi membawa pengaruh positif.
Sebut saja salah satu contohnya, Almarhum Uje (Ustadz Jefry Al Bukhori) yang
merubah lirik lagu Jablai dengan lirik yang diitikad agar para pendengarnya di harapkan akan ingat
kepada sang Azza wa Jala. Opick Tombo Ati yang gencar dengan nada-nada syiarnya
dan sejumlah penyanyi religi lainnya. Terlepas dari itikadnya masing-masing,
ini merupakan nilai positif di tengah zaman dimana teknologi informasi
berkembang pesat. Bayangkan jika semua lagu dan syair yang ada hanya lirik
lirik yang tidak memperhatikan aspek moral, kesantunan bahasa, yang sekarang
ini sudah banyak sekali dijumpai, diantaranya … (tuuuuuttttt….tidak usah
disebutin) :D
Namun, perlu diperhatikan juga,
hal positif tersebut diatas juga harus di barengi dengan aspek pemahaman yang
benar dikalangan umat muslim. Bahwa musik religi sekalipun hanya sebuah kultur,
hiburan, seni yang jangan sampai di pahami keliru sebagai bentuk ritus ubudiyah
seperti salah satu Agama tertentu. Hmm… apa mungkin?..
.
Jawabannya adalah mungkin saja,…
banyak konteks sejarah menyebutkan hal serupa demikian telah terjadi di
masa-masa yang sudah. Sebagai contoh misal, kuburan orang yang dianggap shalih
sekarang tidak hanya di ziarahi tapi banyak yang meminta kepada kuburan
tersebut. Budaya tahlilan, marhabanan, barzanji dan lain halnya banyak di pahami
keliru, bahwa itu adalah ajaran islam dan mungkin juga dianggap syar’i (maaf ya saya menyebutnya itu bukan bentuk
ritus ubudiyah apalagi syar’iyah (berdasarkan syariat), meskipun saya warga NU
(Nahdlotul Ulama) tulen hehe..,
Saya menyikapinya sebagai sebuah budaya saja,
adapun didalamya terdapat nilai-nilai ukhrawiah, nilai kebajikan, nilai ibadah,
dari silaturahmi yang terjalin misalnya, shodaqohnya misalnya, syiarnya
misalnya, semangat kebersamaannya misalnya, merubah dari kebiasaan nenek moyang
terdahulu misalnya, maka disitulah konteks ubudiyahnya. Tapi sekali lagi saya
tidak setuju itu disebut sebagai ritus islam, karena di zaman Nabi SAW awalnya tidak
ada. Paham tho, maksud saya?...hehe
(maaf kalo keliru)
Nah, yang menjadi masalah adalah
budaya yang disebut diatas tersebut, banyak di pahami –mungkin- keliru (menurut
saya ya), bahwa seperti itulah ISLAM. Yang ada tahlilnya, sedekah
(baca:Shodaqoh) orang meninggalnya, 7 harinya, 40 harinya, 100 harinya yang ada
marhaban-marahabannya, barzanji de el es be nya. Padahal Islam adalah Alquran
& Sunah. Tapi karena ada konteks ibadah muamalah, syiar dan sebagainya
didalamnya, saya setuju budaya itu tidak hilang dan tetap ada. Horraaaay…
Hidup NU…pokoknamah.. tapi.. hidup juga Muhamadiyah, jemaah Assunah dan
organisasi atau aliran Islam lainnya selama beda beda titpis.. hehe.. paham tho
beda-beda tipis?.. :D
(Maaf bukan liberal ya, kalo kita mau terus ngedebatin perbedaan, sampe
kiamatpun nggak akan ada habisnya – Kata Alm. Dai Sejuta Umat Zainuddin MZ)-
(Yang lain sudah berbicara ke bulan kita masih ngedebatin qunuth – (Buya
Syakur Yasin.) Wkwkwkw –
Tapi, saya sangat setuju jika kajian atau debat khilafiah ini tetap
ada- Nah lho bingung khan, maksud saya?....wkwkwkwkw (Baca penjelasannya diakhir nanti ya-digaris bawahi dan becetak miring!)
Inga..inga….
Back to the point, intinya adalah,
bahwa pemahamanlah yang harus dikuatkan, pemahaman apa, ya pemahaman Islam yang
sesungguhnya sesuai Alquran & Sunah yang syar’i. Selama ini dipahami secara
benar, so what gitu loh… mau zaman
internet, zaman game online, banyak musik religi, tahlilan, barzanji,
marhabanan atau sebarek dampak kemajuan teknologi, maupun perkembangan society
culture atau perkembangan daya pemahamahan manusia. So what…
Intinya bahwa, jangan sampai,
musik religi di pahami sebagai ritus seperti agama tertentu misalnya, bagian
dari Islam misalnya, tetapi bahwa, musik religi hanya sebuah seni, hiburan,
budaya atau lainnya yang semakna., tidak lebih not more…(gaya ya pake bahasa inggris, padahal bisa itu doang
wkwkwkwk..)
Untuk saat ini memang InsyaAllah
tidak , tapi di zaman yang akan datang, siapa yang tahu? Toh sudah banyak kasus
serupa terjadi tho?.....
Konon nanti menjelang kiamat
ulama-ulama akan hilang di muka bumi. Trus siapa yang akan meluruskan aqidah,
siapa yang akan gencar syiar islam? Nah lho...
Karenanya, (Ini
jawaban tadi yang ingatkan dengan Inga..inga..diatas) perdebatan khilafiah-perbedaan, hasil buah fikir yang berupa
tulisan, majlis ilmu, manuscrift, forum debat dan lain sebagainya harus tetap
ada. Karena ini penting untuk saling mengkoreks meskipun bisa saja keliru
konten atau substansinya (kaya tulisan saya ini haha..) selama itu kita sikapi
sebagai sesuatu yang positif dan ada pembandingnya I think there is no harm
(tidak ada buruknya).
Ingat, banyak artis atau
selebritis yang menggunakan cara management konflik agar rating tetep bagus
atau agar muncul dan di ekspos media. Nah, secara tidak langsung kajian-kajian,
manuscript, perbedaan pendapat, forum debat
tetap ada maka Islam akan tetap memiliki rating yang bagus. Dan ini
positif tho?..Maka sepertinya benar jika ada hadits yang menyatakan perbedaan
diantara umat nabi SAW adalah rahmat.
Semoga bermanfaat. Mohon maaf
jika ada yang keliru mohon koreksi. Dan tidak ada maksud menyudutkan pihak
manapun. Dan mari kita tetap perang pemikiran bergozwul fikr ria…yiii…haaaaa