Google Website Translator Gadget

Selasa, 02 Juli 2013

DARI MUSIK RELIGI SAMPAI TAHLILAN & BAHAYA PERGESERAN TRANSFORMASI RITUS ISLAM





Terlepas dari (kalo tidak salah) menurut jumhur, bahwa musik-musik haram, ada sesuatu yang mungkin penting untuk disampaikan, khususnya tentang musik religi yang sepertinya membawa pengaruh positif dalam hangar bingar industri musik tanah air yang umumnya kering dengan nilai-nilai agama, bahwa di satu sisi musik religi membawa pengaruh positif. Sebut saja salah satu contohnya, Almarhum Uje (Ustadz Jefry Al Bukhori) yang merubah lirik lagu Jablai dengan lirik yang diitikad  agar para pendengarnya di harapkan akan ingat kepada sang Azza wa Jala. Opick Tombo Ati yang gencar dengan nada-nada syiarnya dan sejumlah penyanyi religi lainnya. Terlepas dari itikadnya masing-masing, ini merupakan nilai positif di tengah zaman dimana teknologi informasi berkembang pesat. Bayangkan jika semua lagu dan syair yang ada hanya lirik lirik yang tidak memperhatikan aspek moral, kesantunan bahasa, yang sekarang ini sudah banyak sekali dijumpai, diantaranya … (tuuuuuttttt….tidak usah disebutin) :D

Namun, perlu diperhatikan juga, hal positif tersebut diatas juga harus di barengi dengan aspek pemahaman yang benar dikalangan umat muslim. Bahwa musik religi sekalipun hanya sebuah kultur, hiburan, seni yang jangan sampai di pahami keliru sebagai bentuk ritus ubudiyah seperti salah satu Agama tertentu. Hmm… apa mungkin?..
.
Jawabannya adalah mungkin saja,… banyak konteks sejarah menyebutkan hal serupa demikian telah terjadi di masa-masa yang sudah. Sebagai contoh misal, kuburan orang yang dianggap shalih sekarang tidak hanya di ziarahi tapi banyak yang meminta kepada kuburan tersebut. Budaya tahlilan, marhabanan, barzanji dan lain halnya banyak di pahami keliru, bahwa itu adalah ajaran islam dan mungkin juga dianggap syar’i (maaf ya saya menyebutnya itu bukan bentuk ritus ubudiyah apalagi syar’iyah (berdasarkan syariat), meskipun saya warga NU (Nahdlotul Ulama) tulen hehe..,
 Saya menyikapinya sebagai sebuah budaya saja, adapun didalamya terdapat nilai-nilai ukhrawiah, nilai kebajikan, nilai ibadah, dari silaturahmi yang terjalin misalnya, shodaqohnya misalnya, syiarnya misalnya, semangat kebersamaannya misalnya, merubah dari kebiasaan nenek moyang terdahulu misalnya, maka disitulah konteks ubudiyahnya. Tapi sekali lagi saya tidak setuju itu disebut sebagai ritus  islam, karena di zaman Nabi SAW awalnya tidak ada.  Paham tho, maksud saya?...hehe (maaf kalo keliru)

Nah, yang menjadi masalah adalah budaya yang disebut diatas tersebut, banyak di pahami –mungkin- keliru (menurut saya ya), bahwa seperti itulah ISLAM. Yang ada tahlilnya, sedekah (baca:Shodaqoh) orang meninggalnya, 7 harinya, 40 harinya, 100 harinya yang ada marhaban-marahabannya, barzanji de el es be nya. Padahal Islam adalah Alquran & Sunah. Tapi karena ada konteks ibadah muamalah, syiar dan sebagainya didalamnya, saya setuju budaya itu tidak hilang dan tetap ada. Horraaaay…
Hidup NU…pokoknamah.. tapi.. hidup juga Muhamadiyah, jemaah Assunah dan organisasi atau aliran Islam lainnya selama beda beda titpis.. hehe.. paham tho beda-beda tipis?.. :D

(Maaf bukan liberal ya, kalo kita mau terus ngedebatin perbedaan, sampe kiamatpun nggak akan ada habisnya – Kata Alm. Dai Sejuta Umat Zainuddin MZ)-

(Yang lain sudah berbicara ke bulan kita masih ngedebatin qunuth – (Buya Syakur Yasin.) Wkwkwkw –

Tapi, saya sangat setuju jika kajian atau debat khilafiah ini tetap ada- Nah lho bingung khan, maksud saya?....wkwkwkwkw (Baca penjelasannya diakhir nanti ya-digaris bawahi dan becetak miring!) Inga..inga….

Back to the point, intinya adalah, bahwa pemahamanlah yang harus dikuatkan, pemahaman apa, ya pemahaman Islam yang sesungguhnya sesuai Alquran & Sunah yang syar’i. Selama ini dipahami secara benar, so what gitu loh… mau zaman internet, zaman game online, banyak musik religi, tahlilan, barzanji, marhabanan atau sebarek dampak kemajuan teknologi, maupun perkembangan society culture atau perkembangan daya pemahamahan manusia. So what…
Intinya bahwa, jangan sampai, musik religi di pahami sebagai ritus seperti agama tertentu misalnya, bagian dari Islam misalnya, tetapi bahwa, musik religi hanya sebuah seni, hiburan, budaya atau lainnya yang semakna., tidak lebih not more…(gaya ya pake bahasa inggris, padahal bisa itu doang wkwkwkwk..)

Untuk saat ini memang InsyaAllah tidak , tapi di zaman yang akan datang, siapa yang tahu? Toh sudah banyak kasus serupa terjadi tho?.....
Konon nanti menjelang kiamat ulama-ulama akan hilang di muka bumi. Trus siapa yang akan meluruskan aqidah, siapa yang akan gencar syiar islam? Nah lho...

Karenanya, (Ini jawaban tadi yang ingatkan dengan Inga..inga..diatas) perdebatan khilafiah-perbedaan, hasil buah fikir yang berupa tulisan, majlis ilmu, manuscrift, forum debat dan lain sebagainya harus tetap ada. Karena ini penting untuk saling mengkoreks meskipun bisa saja keliru konten atau substansinya (kaya tulisan saya ini haha..) selama itu kita sikapi sebagai sesuatu yang positif dan ada pembandingnya I think there is no harm (tidak ada buruknya).

 Ingat, banyak artis atau selebritis yang menggunakan cara management konflik agar rating tetep bagus atau agar muncul dan di ekspos media. Nah, secara tidak langsung kajian-kajian, manuscript, perbedaan pendapat, forum debat  tetap ada maka Islam akan tetap memiliki rating yang bagus. Dan ini positif tho?..Maka sepertinya benar jika ada hadits yang menyatakan perbedaan diantara umat nabi SAW adalah rahmat.


Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika ada yang keliru mohon koreksi. Dan tidak ada maksud menyudutkan pihak manapun. Dan mari kita tetap perang pemikiran bergozwul fikr ria…yiii…haaaaa