Google Website Translator Gadget

Rabu, 13 November 2013

ENAM PRESIDEN INDONESIA YANG TER-RAMALKAN





ENAM PRESIDEN INDONESIA YANG TER-RAMALKAN

            Berawal dari ketertarikan saya melihat video-video hasil karya anak bangsa yang saya kira mereka adalah  sekumpulan orang ‘spiritual jenius’ versi masa kini, (kalo boleh saya bilang)  yang bernama TURANGGA SETA (yang nggak tau cari di youtube ya videonya! teori apa dan bagaimana yang mereka kemukakan.. ) terlepas dari kebenaran atau bukan, saya melihat dari sudut pandang berbeda, bahwa orang-orang dengan tingkat intelektual seperti mereka koq masih mau-maunya mengangkat sesuatu yang menuurut sebagian orang  hal  tersebut mungkin dianggap kampungan, nggak zaman atau mungkin stigma negatif lainnya. Jeniusnya, mereka memadukan antara teknologi masa kini untuk membuktikan mitologi, legenda atau warisan budaya leluhur bangsa Indonesia tersebut guna mendukung teori-teorinya yang berlandas pada mitologi budaya leluhur bangsa. Dan dahsyatnya,  menurut saya  teori mereka sangat logis. Patut mendapat acungan jempol buat mereka, ditengah krisis tergerusnya budaya lokal oleh budaya asing, mulai dari demam K-Pop dan sejumlah trend lain yang bikin capee deeeh…J

Dari situ saya mulai tertarik untuk kembali membaca sejarah bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan, saya baca, googling di internet en so on en so on (dan seterusnya maksudnya.. J) akhirnya saya membaca beberapa article yang mengangkat  sejarah bangsa Indonesia sebelum masa kemerdekaan. Saat itu masih dalam bentuk kerajaan kerajaan.
Yang unik kemudian, saya membaca beberapa ramalan seperti ramalan Joyoboyo (Jaya Bhaya), Ramalan Prabu Siliwangi dan beberapa catatan leluhur tentang perjalanan jaman di Indonesia dan kemudian saya berlabuh dalam salah satu blog yang menuliskan RAMALAN RONGGOWARSITO. Lengkapnya tulisan tersebut sudah saya copy paste sebagai berikut:

Ramalan Satrio Piningit Ronggowarsito
Di dalam ramalan Ronggowarsito dipaparkan ada tujuh Satrio Piningit yang akan muncul sebagai tokoh yang di kemudian hari akan memerintah atau memimpin wilayah seluas wilayah “bekas” kerajaan Majapahit, yaitu : Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu. Berkenaan dengan itu, banyak kalangan yang kemudian mencoba menafsirkan ke-tujuh Satrio Piningit itu adalah sebagai berikut :

  1. SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO.
    Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.

  1. SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR.
    Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.


  1. SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR.
    Tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.

  1. SATRIO LELONO TAPA NGRAME.
    Tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia (Lelono) akan tetapi dia juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup / Rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.

  1. SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH.
    Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.


  1. SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO.
    Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro). Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati satria piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja tak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman bencana alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang terus terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.

Nah, terlepas dari kebenaran atau tidaknya ramalan ini, saya melihat justru dari hal berbeda kembali, yakni

  1. Ternyata khasanah leluhur bangsa kita ini sangat kaya akan nilai agung yang terkandung didalamnya, sangat disayangkan kalo kita generasi muda dan tentunya generasi tua (yang udah bapa-bapa ..hihi)  ini malah justru lupa atau tidak mau tahu dengan khasanah leluhurnya ini. Ironis..
  2.  Budaya leluhur sarat dengan pendidikan pekerti yang agung, bijaksana, arif en so so en so on (dan seterusnya maksudnya..) yang tentunya bisa menjadi oase ditengah krisis moral yang ada saat ini.
  3. Mungkin saja, untuk mengembalikan kejayaan Indonesia kita tidak hanya harus fokus pada hal-hal rasionalis (mengedepankan rasio) ketimbang rasa, karena ternyata literature budaya leluhur  bangsa yang sarat dengan bahasa simbolis nan penuh makna juga bermuara tidak hanya kepada kecerdasan rasio tapi kecerdasan rasa, kecerdasan spiritual.

So, saatnya generasi muda dan generasi tua (yang udah bapa-bapak maksudnya ) ini, kembali kepada rel leluhurnya yang apik, bijaksana, luhur, dan arif. Baru kita kemudian bicara intelektualitas, bukannya malah dicekokin rumus-rumus dan teori-teori yang malah menjadikan kaum berpendidikan berfikir secara mainstream, muter2 disitu-situ aja.. sorry guys J. Seperti yang diucapkan Prabu Siliwangi sebelum menghilang bersama kerajaannya :

”Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.”
  • ”Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli, memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omong­an, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Sudah pasti: bunga teratai hampa sebagian, bunga kapas kosong buahnya, buah pare banyak yang tidak masuk kukusan. Sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar keblinger.”

And then… Allahu a’lam (Hanya Allah yang Maha Tahu)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar