Musim PILEG 2014 telah berlalu,
dan masih seperti sebelumnya saya berada di golongan putih #GOLPUT. Terkecuali
nanti memang saya menemukan sosok yang memang benar-benar seperti “ksatria ireng” (ksatria baja hitam) hihi.. yang
mirip-mirip gaya
kepemimpinan yang sudah saya buat parodinya di youtube-lah.. ciyeeee..suit suit…baru mungkin saya
akan ikut nyoblos. Kenapa koq sepertinya
apatis?..
Seperti judulnya, “Setelah Pileg Lalu apa?” … Apa ada
gebrakan yang signifikan dari caleg-caleg yang kepilih? (Coba deh lihat
beberapa tahun kebelakang dengan sekarang, sama nggak?.. ada perubahan nggak?)..saya
sich masih ngeliat nggak ada perubahan berarti, jalan rusak yang tetep rusak,
yang miskin ya makin banyak, yang dipersulit masuk rumah sakit ya juga tetep
banyak, yang macet-macet kian hari juga makin semrawut, tranparansi dana
RUTILAHU juga nggak tahu di grass rootnya sietemnya gimana?... lalu tugas
mereka ngapain aja?...Cuma ngurusin proyek yang gede duitnya?..Ah basi PILEG itu, dari pada memilih caleg saya
sich lebih suka milih crew Trans 7 jadi legislator. Kenapa crew trans7, saya
pikir intelijen Negara saja kalah ama crew trans7, tuh liat redaksi
kontroversi, yang melakukan kecurangan-kecurangan di pasar-pasar atau
tempat-tempat lainnya, kebongkar semua itu. Masa legislator nggak mikir kesana
untuk perbaikan negeri?.. berarti IQ nya kalah dong sama crew trans7, atau
mereka kurang creative nggak mikir kesana?.. saya sih ngebayinnya gini, mereka
(para legislator) datang ngantor, rapat-rapat NATO (no action talk only)
meskipun sampe ada action tapi nggak maxi..
gitu doang kerjaan mereka, coba turun ke jalan, bikin team khusus kaya
trans 7, yang nyelidikin ini itu, insyaAllah bakal dahsyat effectnya buat negeri
ini..
Kita ini dalam PILEG selama ini
tidak menakar SDM, kalopun ditakar ya tentu belum optimal penakarannya, yang
mau maju monggo dipersilahkan, yang ditakar di rekomend sama orang yang mungkin
saja ada kepentingan, entah saudaranya, entah apanya, entah yang banyak
duitnya. Mereka-mereka yang justru punya mental ksatria nggak ke expose. Tuh
liat kaya kuwu di desa Pajajar Majalengka 90% masyarakat memilihnya, karena apa
sebab?. Sebelum jadi kuwu, dia udah bangun desa dengan uangnya senidiri betulin
ini itu. Orang seperti inilah yang dibutuhkan bangsa dan saya yakin InsyaAllah
masih banyak orang seperti ini di negeri ini.
Tentang takar menakar caleg ini,
dulu saya pernah nulis di catatan Facebook
sebagai berikut, dan teori saya ini mendukung kepada orang-orang yang beramal
tanpa pamrih:
….menurut saya nggak ada yang
benar-benar seperti ksatria sesungguhnya, koq
bisa gitu?.. saya menggunakan metode Qur’ani dalam menentukan seorang
pemimpin lho… (hebat khan saya…),
qoidohnya sederhana sesuai dengan ayat:
Walaa tamnun tastaktsiru (QS Al Muddatsir 74:6)
( Dan janganlah kamu memberi dengan harapan mendapat imbalan yang lebih
besar)
Diluar ayat ini, seorang pemimpin
sepertinya nggak lebih dari seorang yang cuma mau duduk di kursi jabatan,
muasin keinginan dunianya, nyari proyek gede yang nantinya bisa didapetin kalo
duduk di posisi itu, ngelindungi aset perusahaannya yang menggurita atau
sekadar numpang keren-kerenan (wakil/pemimpin
rakyat gitu loh..). Kenapa ayat itu bisa menjadi qoidoh?.. karena logikanya, pastilah seorang calon pemimpin itu
kampanye dulu sebelum hari “h” pemilihan tho?..
pake apa ?.. uang. Nah uangnya ini gede, kenapa mesti repot-repot ngabisin
dana kampanye yang milyaran atau triliyunan itu untuk kampanyenya, sedangkan
katanya tujuannya mau mensejahterakan rakyat. Yang menarik, the point is:
- Kalomemang mau mensejahterakan rakyat,
pake aja tuh dana kampanye untuk mensejaherataakn rakyat ,melalui program
efektif, tepat sasaran, tepat guna dan tidak di corrupt, kalo nggak gitu
berarti mereka memang berharap ada take and give. Sedangkan…(nyambung
point berikutnya)
- Pemimpin sejati
nggak akan mikirin take and give bro, rakyat sejahtera misi selesai. Nah
kenyataannya?..mereka ingin menang dan duduk dikursi jabatan tho?..
- Kenapa
janji-janji programnya cuma jelang hari pencoblosan saja, diluar itu nggak
(janggal khan’ untuk ukuran orang/parpol yang punya misi mensejahterakan
rakyat?..)
- Kenapa dana yang jumlahnya sebrek itu tidak dibuatkan saja program yang pro-rakyat, tanpa umbul2 tanpa baligho, tanpa harus peduli menjadi atau tidak menjadi wakil rakyat dulu (lho katanya mau mensejahterakan rakyat?..piye tho..-balasan pemimpin bukannya ada di akhirat?)
Kesimpulannya, hampir semua
pemimpin ingin balasan yang lebih besar untuk dirinya maupun parpolnya = tidak
sesuai dalil/qoidoh/ayat penakar
calon pemimpin = ngak ada Ksatria Baja Hitam, nggak ada Power Ranger, nggak ada
Superman, nggak ada Robin Hood maupun Batman.. ( mereka suka niru gaya
super hero di TV soalnya )..
Dalih-dalih Mereka
“Khan buat bisa dapetin APBD atau APBN yang jumlahnya lebih gede untuk
kesejahteraan yang lebih merata…jadi so what gitu loh..”
Mengejar APBN atau APBD itu juga
ada bentuk minta balasan yang lebih gede dong...
AlQuran itu kalammnya Illahi,
nggak mungkin keliru, nggak mungkin salah. Kalo memang di firmankan demikian
berarti memang ada kebenaran mutlaq yang terkandung didalamnya. Dan terbukti
khan.. orang yang minta balasan lebih besar itu
bobrok mental spiritualnya, sudah bisa dipastikan dia tidak akan
berfikir untuk lilmaslahatilummat atau lilmaslahatil-rakyat
(untuk kebaikan rakyat) lebih tepatnya.
“Khan itu qoidoh secara islam, sedangkan tidak semua partai atau calon
pemimpin itu beragama islam..”
Yaa bukan urusan mas bro… mau
pake qoidoh Qurani, mau pake qoidoh syaithoni, atau qoidoh dari luar angkasa sekalipun, ini
hak pemilih sebagi individu beragama. Lagi pula Indonesia negara islam terbesar di
dunia. Kalo masyarakatnya mau pake qoidoh
atau ayat AlQuran atau apapun
bebas tho?…
So…sebelum memilih dan mencoblos
berfikir jernih dulu, toh dari tahun ke tahun, yang tidur dijalan masih saja
ada, yang ngemis di lampu merah juga banyak, angka kejahatan tinggi, dan masih
sebarek fenomena lainnya yang tidak berkurang (karena kalo berakhir kayanya nggak mungkin, minimal berkuranglah). Di
Musim Kawin Percaturan Politik dan Fake Pahlawan (yang ngaku-ngaku pejuang
rakyat, tapi bukan) ini, mari berikir lebih jernih..
And then…
Mohon maaf apabila lidah saya
bermasalah, tidak ada maksud menyudutkan pihak manapun. Dan mohon ayatnya di
ricek ke mufasir (karena saya bukan mufasir ) hihi..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar